Sabtu, 15 April 2017

nenek penjual tisu + lupa pakai kerudung

liqo baru selesai ketika adzan magrib berkumandang. sebenarnya, sudah selesai beberapa menit sebelumnya. tapi, saya, mbak rosi, kak redda, dan kak neco memutuskan untuk berbincang-bincang dahulu. tepatnya bukan saya, tapi mereka bertiga, saya hanya kebanyakan mendengar, dan sedikit berbicara. kalau tidak salah mereka membicarakan tentang grup tahsin dan kosan seharga 'cuma' 300rb.

saya memutuskan untuk sholat di masjid UIN saja, dan segera mengambil wudhu. ketika selesai, saya sudah tidak melihat mereka bertiga yang tadi asik berbincang-bincang.

saya meletakan tas kami ditempat yang sekiranya aman. kemudian mengambil barisan sejajar dengan akhwat-akhwat yang ada di barisan depan.

ketika sholat, ada ibu-ibu yang tidak mau mengisi shaf yang kosong, ada juga ibu-ibu yang ketika saya mencoba merapatkan kaki kami, eh.... dia malah membatalkan sholatnya dan bergeser.

langsung aja ke intinya,

selesai solat, ketika lagi mengembalikan mukena pada tempat asalnya, ada seorang nenek yang juga hendak mengembalikan mukenanya. eh, malah di geletakkan begitu saja, tidak digantung kembali.

"lama, hehe. buru-buru." ujarnya tersenyum, dan menghilang melewati pintu depan.

kemudian saya memutuskan untuk membereskan mukena yang berantakan itu.

ketika berniat menggantung mukena yang selesai dipake nenek itu, sehelai kerudung langsung jatuh. saya kaget.

"aduh, jangan-jangan kerudungnya ketinggalan."

saya segera keluar, mencari kemana nenek tadi. nenek tadi adalah penjual tisu yang menawarkan tisu dijalan. saya sempat melihat beliau membawa sekantong plastik hitam besar yang berisi tisu.

nenek itu masih terlihat disekitar masjid, berkeliling mulai menjajakan tisunya.
"bu..bu.."

nenek itu mendengar, namun bingung darimana asal suara itu.

"bu..."

"eh iya neng," beliau menghampiri saya.

"ibu, lupa pakai kerudung ya?"

beliau terlonjak kaget dan menyentuh kepalanya. kepala yang hanya dibalut dalaman hitam, dan terlihat rambutnya.

"aduh, eh iya neng, kerudungnya lupa."

saya berlali kembali ke dalam, mengambilkan kerudung nenek tersebut.

"aduh neng, makasih ya, nenek lupa.."

"hehe, iya nek.."

"aduh makasih ya, neng, lupa nenek... pantes...tadi licin rasanya"

"iya nek..."

"tadi nenek buru-buru"

"iya nek, untung tadi lihat..."

"makasih ya neng,"

beliau kemudian pergi lagi.

end.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar